Curhat tanpa cengeng, Menulis tanpa batas....

Para Pencari Kebahagiaan

4 Sep 2013 - 20:24 WIB

Pernah pada suatu malam seorang teman datang dengan wajah ceria, namun tersirat lelah di matanya. Dia memang sosok yang selalu ceria dan tampak tak pernah bersedih itu yang saya suka darinya. Kali ini dia datang dengan senyum dan pertanyaan serius. Saya tidak tahu kenapa dia datang pada saya dan bukan orang lain, mungkin memang dia sedang tidak punya teman lain selain saya dan saya pun tidak peduli karena yang saya tahu saat itu dia membutuhkan saya dan saya senang dibutuhkan olehnya.

Teman saya ini seorang gadis mudah yang sangat cerdas dan cantik, namun dia malam itu datang dan berada di kamar saya hingga larut hanya menceritakan sekelumit cerita tentang keluarganya, tentang kehidupannya. Dia bercerita, kalau dulu ayahnya seorang pengusaha yang bangkrut, adiknya meninggal karena kecelakaan, keluarganya dililit banyak hutan dan kini tak memiliki kehidupa layak dan dari situ ibunya pun depresi. Dia sebagai anak tertua pun merasa bertanggung jawab untuk menghidupi keluarganya, terutama ibundanya.

Jangan berpikir dia menempuh jalan pintas dengan menjual diri untuk mendapatkan uang, dia tidak melakukannya akan tetapi dia bekerja apa saja yang penting menghasilkan uang. Namun, pada suatu ketika ada hal menyakitkan yang menimpahnya yaitu kegadisannya direnggut oleh pacarnya, dia diperkosa. Dari situ semua kehidupannya berubah, dia bukan lagi gadis lugu yang memiliki rasa takut besar, namun kini menjadi seorang gadis pemberani dan nekat. Dia berpikir, toh dia sudah tidak gadis lagi maka dia berpacaran dengan pria-pria asing kaya yang ingin memacarinya dan secara materi pun dia tidak kekurangan dan hal ini berlaku bertahun-tahun.

Namun, malam itu di depan saya dengan mata berkaca-kaca dia bilang dia lelah dengan kehidupan yang dia jalani. Dia tidak tahu apakah dia bahagia. Saya tak pandai memberi nasehat, saya hanya mengajaknya sholat dan menceritakan semua isi hatinya pada Allah.

Cerita lain, 3 atau 4 tahun yang lalu seorang pria mendekati saya. Dia bilang dia bangga dengan semua prestasi yang sudah dia raih, karir di bisnis dan juga di dunia politik di tambah lagi dia memiliki tunangan anak orang kaya, cantik dan berpengaruh di daerahnya. Saya bertanya, lalu apa lagi yang kurang dari dirimu? kenapa tetap mencari aku saat kamu sedang lemah dan jatuh? Ya, bergelut di dunia politik dan berurusan dengan pemerintahan ada kalanya dia merasa persaingan itu tidak sehat dan ada hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraninya itu terasa menyakitinya karena dia tidak bis aberbuat apa-apa.

Dia bilang meski pun dia sudah memiliki segalanya dia tidak bahagia karena dia dikelilingi oleh orang-orang yang penuh topeng kepalsuan bahkan kekasihnya sendiri.

Kebahagiaan menjadi hal yang sangat complicated di saat kita tidak tahu apa apa sebenarnya kebahagiaan itu, bagaimana kita bisa menemukannya jika kita tidak tahu apa diskripsi dari kebahagiaan sendiri? Padahal bahagia itu simple, di saat kita meraih sesuatu, kmendapatkan sesuatu sekecil apapun dan kita mampu mensyukurinya itu adalah kebahagiaan. Bahkan di saat kita bisa menyelesaikan pekerjaan kecil pun jika kita bisa mensyukurinya, itu aalah kebahagiaan, jadi kenapa susah mengejar kebahagiaan? Lakukan sesuatu sebaik yang kita bisa, dan syukuri setiap pencapainnya.

30-hari-non-stop-ngeblog


TAGS   Kebahagiaan /