Curhat tanpa cengeng, Menulis tanpa batas....

Bali, sebuah harga mahal

16 Nov 2013 - 12:44 WIB

Bali, saya yakin tidak ada seorang pun yang tidak tahu di mana itu Bali yang terkenal dengan sebutan Pulau Dewata. Bali memiliki banyak pantai yang indah, pemandangan yang eksostis dan juga kebudayaan yang kental sehingga menarik nyak wisatawan tak hanya wisatawan local akan tetapi juga wisatawan mancanegara.

Sebagian besar masyarakat Bali bekerja di bidang pariwisata, kalau Anda memasuki Bali akan merasakan perbedaannya dengan daerah lain di Indonesia. Secara pembangunan, sebenarnya Bali tidak jauh beda dengan daerah lain di seluruh Indonesia, meski pun baru baru ini banyak sekali pembangunan dilakukan di Bali.

Dikarenakan Bali yang tak pernah sepi dengan wisatawan tak heran jika menjadi sebuah jendela atau pintu buat Indonesia. Bahkan oleh para pebisnis, Bali dijadikan sebagai sebuah ruang tamu, lobby untuk memasarkan produk dari industry yang dijualnya sedangkan produksi tetap berpusat di Jawa.

Jangan heran jika banyak sekali tenaga kerja yang dibutuhkan di Bali, gaji yang ditawarkan pun tidak sedikit karena biaya hidup di Bali juga lumayan tinggi jadi tidak heran jika banyak juga para pendatang yang mengadu nasib ke Bali.

Akibat banyaknya pendatang ini tak heran jika bisnis kost-kost an sangat menggiurkan, akan tetapi jangan berharap kita bisa menemukan biaya sewa kost Rp. 500,000 bisa ditemukan, rata-rata yang ada adalah Rp. 750,000 kalau pun ada kost-kost an itu kosong! Mereka hanya menyewakan ruangan tanpa isi, terbayangkan dalam satu bulan kita butuh uang berapa?

Untuk para bekerja kasar yang berpenghasilan tak lebih adri 1,5 juta akhirnya harus rela tinggal di sebuah kost yang kumuh dan tak sehat, dalam pikiran mereka yang penting ada ruangan untuk berteduh dan istirahat setelah seharian bekerja.

Biaya hidup yang tinggi sepertinya menjadi sebuah kosekuensi jika memilih hidup di Bali, akan tetapi jika ini menyangkut para pekerja dengan gaji pas-pasan sepertinya sangat kurang adil. Segala sesuatu di Bali sepertinya di bandrol dengan harga para wisatawan.

Percaya atau tidak, terkadang hidup di Bali serasa hidup di luar negeri. Beberapa outlet atau showroom sebuah produk dibandrol dengan harga USD oleh market mereka memang export atau wisatawan manca Negara. Kalau pun orang local yang membeli, ya pasti harus mereka yang berknatong tebal.

Ada beberapa hal yang serasa menjadi beban untuk para pendatang di Bali, terutama saat mereka harus disuruh membayar banyak iuran. Seperti halnya kipem yang harus diperbarui setiap 3 bulan dan harga kipem ini ini dipatok dengan harga Rp. 50,000 70,000 per tiga bulan.

Kipem adalah kartu penduduk sementara yang wajib dimiliki oleh semua pendatang.

Tak hanya Kipem, para pendatang juga diwajibkan untuk membayar biaya kemanan perbulannya, sebenarnya hal ini tidak begitu menjadi beban jika hal ini diminta dengan baik-baik. Yang menjadi beban dan kadang sering menjadi complain adalah mereka meminta dengan kasar. Hal ini sangat disayangkan saja meskipun tidak dilakukan oleh semua anggota lembaga lingkungan. Para oknum ini meminta dengan kasar dan mengatakan kalau mereka yang memiliki daerah itu jadi kami harus mematuhinya.

Yang menjadi masalah adalah bagi kami yang selama ini tertib beradministrasi, membayar ini dan itu.

Ada cerita bagaimana saya kemarin sempat emosi dikarenakan demi mengurusi KK karena saya menikah dengan warga Bali kami harus membayar Rp. 1,350,000. Menurut cerita sih, tidak semua daerah mematok harga ini dan harga tersebut menurut beberapa teman warga Bali merupakan unbelievable and unacceptable price! Tapi mau bagaimana, alih-alih itu keputusan dari banjar setempat dan everybody agrees to pay! Apalagi saya butuh KK untuk KTP dikarenakan KTP saya di tempat asal sudah habisa masa berlakunya.

Bali tempat yang indah dan nyaman, akan tetapi jika tidak terpaksa saya rasa saya tidak akan menjadikannya tempat menetap karena tinggal di kampung tetap lebih menyenangkan, di mana semua tak harus dihargai dengan uang.


TAGS   Bali / Kipem /