Curhat tanpa cengeng, Menulis tanpa batas....

Saat adat dan gengsi menjadi kendala sebuah pernikahan

2 Feb 2015 - 13:16 WIB

Hendra, 36 tahun sampai sekarang belum menikah. Saat ditanya alasannya sangat klasik katanya sih belum ada yang cocok! Oh, benarkah? Atau jangan-jangan Hendra yang terlalu pemilik? Setelah didesak lagi ternyata alasan sebenarnya keluar “Menunggu punya tabungan banyak dulu, kan biaya nikah itu banyak” ungkapnya karena dalam dua tahun terakhir dia sedang dekat dengan seorang gadis manis teman sekantornya.

Biaya pernikahan itu mahal! Benarkah? Semahal itukah sampai orang seperti Hendra yang sudah berusia 36tahun dan pekerjaan dia sebagai staff accounting sebenarnya gajinya lumayan kok!

Coba kita cari contoh kasus lain untuk membuktikan kalau memang biaya pernikahan itu mahal! Si Pandu, usia pernikahannya hanya bertahan 6 bulan! Bagaimana bisa? dia bercerai dengan istri terdahulunya karena bangkrut dan bangkrutnya ini dikarenakan biaya pernikahan yang sangat besar.

Kalau memang biaya pernikahan semahal ini, maka akan banyak orang menunda untuk menikah atau bahkan enggan menikah! Kenapa biaya pernikahan bisa semahal itu? Padahal, kalau kita hitung-hitung ke penghulu paling banyak bayar 1 juta dan untuk tumpengan saat syukuran paling juga 1 juta, mas kawin seperangkat alar sholat katakanlah habis 500ribu dengan demikian pernikahan sudah bisa dilangsungkan.

Akan tetapi, di saat kita harus kembali ke masyarakat dan kita harus sadar kita hidup bermasyarakat dan terikat dalam satu adat tertentu pernikahan tidaklah cukup dengan hanya ke KUA dan tumpengan. Ada acara lamaran yang paling sedikit memakan biaya 10juta, acara siraman yang paling murah 28juta dan pesta pernikahan sederhana yang memakan 40juta harus mempersiapkan uang berapa agar pernikahan berlangsung? Karena mengikuti adat.

Akan tetapi sebuah adat bisa diringkas lebih sederhana agar keseluruhan biaya pernikahan bisa ditekan sampai 50% bahkan lebih dari estimasi perhitungan pernikahan sederhana saya di atas. Namun, beberapa orang enggan melakukannya karena mereka gengsi dan memikirkan pendapat orang, pendapat saudara, pendapat tetangga, pendapat teman dan lain sebagainya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, sebuah pesta pernikahan ternyata dijadikan ajang pamer! Kalau sudah seperti ini, adat dan gengsi menjadi kendala sebuah pernikahan. Padahal pernikahan itu yang penting adalah akad nikahnya.

Ada berapa banyak orang yang kita jumpai di lingkungan kita yang rela berhutang berjuta-juta rupiah demi sebuah pernikahan megah? meskipun pernikahan tak menuntut demikian. Bahkan baru-baru ini masih segar di ingatan kita sebuah pernikahan termahal di Indonesia disiarkan secara live di sebuah stasiun televisi. Pernikahan bukanlah ajang pamer gengsi dan juga pembuktian kalau kita menganut satu adat tertentu akan tetapi penyatuan dua hati yang bertujuan membentuk biduk rumah tangga diikuti oleh penyatuan dua keluarga besar untuk mengikay sebuah tali silaturahmi.

Jangan jadikan adat dan gengsi sebagai penghalang untuk menikah, ingin membuat pesta besar-besaran boleh saja akan tetapi sesuaikan dengan kemampuan. Pernikahan yang sederhana dan khidmat bahkan akan menjadi inspirasi bagi setiap orang. Karena kehidupan yang sebenarnya dimulai saat pernikahan itu usai bukan saat pernikaha berlangsung dan sudah pasti membutuhkan biaya lebih besar.


TAGS   Tips Pernikahan / Tips Pernikahan biaya murah / adat istiadat pernikahan / pernikahan selebritis / pernikahan sederhana / tips pernikahan sederhana /